cerita dewasa, kumpulan cerita sex, blowjob, handjob, cerita sex
dewasa, cerita seks dewasa, tante girang, daun muda, pemerkosaan, cerita
seks artis,cerita sex artis, cerita porno artis,cerita hot artis,
cerita sex, cerita kenikmatan,cerita bokep, cerita ngentot,cerita hot,
bacaan seks, cerita, Kumpulan Cerita Seks, onani dan Masturbasi, cerita
seks tante,blog cerita seks, seks,sedarah seks, cerita 17 tahun,cerita
bokepTempat berbagi Cerita & Foto Sex, Dewasa, ABG, HOT, Tips Bercinta :
Kejadian ini lumrah terjadi di setiap desa tapi menurut saya kejadian
ini unik dimana anak anak sekolah dari SD, SMP, bahkan SMA berjajar
serentak di pagi hari yang biasanya aku lalaui jalan tersebut untuk
berangkat kerja, pada umumnya anak anak sekolah itu menunggu angkutan
umum untuk pergi sekolah, karena angkutan umum didesa ini terbatas
kadang juga biasanya melambai lambaikan tangannya untuk menyetop
kendaraan yang lewat di jalan itu.
Kadang juga ada truk atau pick up yang berbaik hati untuk mengantar
dengan arah yang sama menuju ke masing masing sekolah , tak hayal juga
kendaraan lainnya tidak mau berhenti karena jumlahnya yang berkelompok
dan berjumlah puluran orang.
Saat itu aku hari senin aku agak terlambat untuk berangkat ke kantor
yaitu pukul sudah menunjukan 06.50 wib, tak apalah karena semalam ada
acara bola yang seru, ku keluarkan mobilku dan bergegas untuk berangkat
kekantor, hari itu tak seperti biasanya karena sepanjang jalan yang aku
biasanya lalui agak sepi, mungkin karena anak sekolah sudah mendapatkan
kendaraan.
Saat perjalananku mencapai ujung desa Bedulan (tempat ini pasti dikenal
oleh semua orang karena sering terjadi tawuran antar desa sampai saat
ini), kulihat ada seorang anak sekolah perempuan yang melambai-lambaikan
tangannya. Setelah kulihat di belakangku tidak ada kendaraan lain, aku
mengambil kesimpulan kalau anak sekolah itu berusaha mendapatkan
tumpangan dariku dan karena dia seorang diri di sekitar situ maka segera
kuhentikan kendaraanku serta kubuka kacanya sambil kutanyakan, "Mau ke
mana dik?".
Kulihat anak sekolah itu agak cemas dan segera menjawab pertanyaanku,
"Pak boleh saya ikut sampai di SMA situ pak, dari tadi kendaraan umum
penuh terus dan saya takut terlambat?, dengan wajah yang penuh harap.
"Yaa..., OK lah.., naik cepat", kataku. "Terima kasih paak", katanya
sambil membuka pintu mobilku.
Jarak dari sini sampai di sekolahnya kira-kira 10 Km dan selama
perjalanan kuselingi dengan pertanyaan-pertanyaan ringan, sehingga aku
tahu kalau dia itu duduk di kelas 3 SMU di tersebut dan bernama Shela
Tinggi badannya kira-kira 155 cm, shelana kulitnya bisa dibilang agak
hitam bersih dan tidak cantik tapi manis dan menarik untuk dilihat,
entah apanya yang menarik, mungkin karena matanya agak sayu.
Tidak terlalu lama, kendaraanku sudah sampai di daerah tersebut dan
Shela segera memberikan aba-aba. "Ooom..., sekolah saya ada di depan
itu", katanya sambil jarinya menunjuk satu arah di kanan jalan.
Kuhentikan kendaraanku di depan sekolahnya dan sambil menyalamiku Shela
mengucapkan terima kasih. Sambil turun dari mobil, Shela masih sempat
bertanya, "Oom..., besok pagi saya boleh ikut lagi.., nggak Oom, lumayan
Oom..., bisa naik mobil bagus ke sekolah dan sekalian menghemat
ongkos.., boleh yaa.. Oom?".
Aku tidak segera menjawab pertanyaan itu, tapi kupandangi wajahnya, lalu
kujawab, "Boleh boleh saja Shela ikut Oom, tapi jangan bergerombol
ikutnya yaa". "Enggak deh Oom, saya cuma sendiri saja kok selama ini".
Setiap pagi sewaktu aku mencapai desa itu, Shela sudah ada di pinggir
jalan dan melambaikan tangannya untuk menghentikan mobilku.
Dalam setiap perjalanan dia makin lama makin banyak bercerita soal
keluarganya, kehidupannya di desa, teman-teman sekolahnya dan dia juga
sudah punya pacar di sekolahnya. Ketika kutanya apakah pacarnya tidak
marah kalau setiap hari naik mobil orang, Shela bilang tidak apa-apa
tapi tanpa ada penjelasan apapun, sepertinya dia enggan menceritakan
lebih jauh soal pacarnya. Shela juga cerita bahwa selama ini dia tidak
pernah kemana-mana, kecuali pernah dua kali di ajak pacarnya piknik ke
daerah wisata di Kuningan.
Seminggu kemudian di hari Jum'at, waktu Shela akan naik di mobilku
kulihat wajahnya sedih dan matanya bengkak seperti habis menangis dan
Shela duduk tanpa banyak bicara. Karena penasaran, kusapa dia, "Shela,
habis nangis yaa..., kenapa..? coba Shela ceritakan.., siapa tahu Oom
bisa membantu". Shela tetap membisu dan sedikit gelisah. Lama dia diam
saja dan aku juga tidak mau mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan,
tetapi kemudian dia berkata, "Oom, saya habis ribut dengan Bapak dan
Ibu", lalu dia diam lagi.
"Kalau Shela percaya pada Oom, tolong coba ceritakan masalahnya apa,
siapa tahu Oom bisa membantu", kataku tetapi Shela saja tetap membisu.
Ketika mobilku sudah mendekati sekolahnya, tiba-tiba Shela berkata,
"Oom..., boleh nggak Shela minta waktu sedikit buat bicara di sini,
mumpung masih belum sampai di sekolah". Mendengar permintaannya itu,
segera saja kuhentikan mobilku di pinggir jalan dan kira-kira jaraknya
masih 2 Km dari sekolahnya.
"Ada apa Shela...?", Kataku. Shela tetap diam dan sepertinya ada
keraguan untuk memulai berbicara."Ayoo..., lah Shela (sebenarnya
pengarang penuliskan tiga harus terakhir dari namanya, tapi terpaksa
oleh Yuri diganti jadi 3 huruf terdepan), jangan takut atau ragu..., ada
apa sebenarnya", tanyaku lagi.
"Begini..., Oom, kata Shela", lalu dia menceritakan bahwa tadi malam dia
minta uang kepada orang tuanya untuk membayar uang sekolahnya yang
sudah tiga bulan belum dibayar dan hari ini adalah hari terakhir dia
harus membayar, karena kalau tidak dia tidak boleh mengikuti ulangan.
Orang tuanya ternyata tidak mempunyai uang sama sekali, padahal uang
sekolah yang harus dibayar itu sebesar 80 ribu rupiah. Alasan orang
tuanya karena panen padi yang diharapkan telah punah karena hujan yang
terus menerus. Dan katanya lagi orang tuanya menyuruh dia berhenti
sekolah karena tidak mampu lagi untuk membayar uang sekolah dan mau
dikimpoikan dengan tetangganya.
Aku tetap diam untuk mendengarkan ceritanya sampai selesai dan karena
Shela juga terus diam, lalu kutanya, "Teruskan ceritamu sampai selesai
Shela". Dia tidak segera menjawab tapi yang kulihat airmatanya terlihat
menggenang dan sambil mengusap air matanya dia berkata, "Oom, sebetulnya
masih banyak yang ingin Shela ceritakan, tapi saya takut nanti Oom
terlambat ke kantornya dan Shela juga harus ke sekolah, serta lanjutnya
lagi..., kalau Oom ada waktu dan tidak keberatan, saya ingin pergi
dengan Oom supaya saya bisa menceritakan semua masalah pribadi saya".
Setelah diam sejenak, lalu Shela berkata lagi, "Oom, kalau ada dan tidak
keberatan, saya mau pinjam uang Oom 80 ribu untuk membayar uang sekolah
dan saya janji akan mengembalikan setelah saya dapat dari orang tua
saya". Mendengar cerita Shela walaupun belum seluruhnya, hatiku terasa
tersayat dan segera kurogoh dompetku dan kuambilkan uang 200 ribu dan
segera kuberikan padanya.
"Lho Oom, kok banyak benar..., saya takut tidak dapat mengembalikannya",
katanya sambil menarik tangannya sebelum uang dari tanganku
dipegangnya."Shela.., ambillah..., nggak apa-apa kok, sisanya boleh kamu
belikan buku-buku atau apa saja..., saya yakin Shela membutuhkannya",
dan segera kupegang tangannya sambil meletakkan uang itu ditangannya dan
sambil kukatakan, "Shela.., ini nggak usah kamu beritahukan kepada
siapa-siapa, juga jangan kepada orang tuamu..., dan Shela nggak perlu
mengembalikannya".
Belum selesai kata-kataku, tiba-tiba saja dari tempat duduknya dia maju
dan mencium pipi kiriku sambil berkata, "Terima kasih banyak Oom..,
Oom.. sudah banyak menolong saya". Aku jadi sangat terkesiap dan
berdebar, bukan karena mendapat ciuman di pipiku, tapi karena tangan
kiriku tersentuh buah dadanya yang terasa sangat empuk sehingga tidak
terasa penisku menjadi tegang dan sementara Shela masih mencium pipiku,
kugunakan tangan kananku untuk membelai rambutnya dan kucium hidungnya.
"Ayoo..., Shela..., sudah lama kita di sini, nanti kamu terlambat
sekolahnya".Shela tidak menjawab tapi kulihat dikedua matanya masih
tergenang air matanya. Ketika sudah sampai di depan sekolahnya sambil
membuka pintu mobil, Shela berkata, "Oom.., terima kasih yaa.. Ooom dan
kapan Oom ada waktu untuk mendengar cerita Shela".
"Kalau besok gimana..?, kataku.
"Boleh.., oom", jawabnya cepat.
"Lho..., besok kan masih hari Sabtu dan Shela kan harus sekolah", jawabku.
"Sekali-kali mbolos kan nggak apa apa Oom..., hari Sabtu kan pelajarannya tidak begitu padat dan kurang penting", kata Shela.
"Oklah..., kalau begitu..., Shela, kita ketemu besok pagi ditempat biasa kamu menunggu".
Dalam perjalanan ke kantor setelah Shela turun, masalah Shela terasa
mengganggu pikiranku sehingga tidak terasa aku sudah sampai di kantor.
Sebelum pulang kantor, aku izin untuk tidak masuk besok Sabtu pada
Bossku dengan alasan akan mengurus persoalan keluarga di Kuningan.
Demikian juga waktu malamnya kukatakan pada istriku kalau aku harus ke
Jakarta untuk urusan kantor dan kalau selesainya telat terpaksa harus
menginap dan pulang pada hari Minggu.
Besok paginya dengan berbekal 1 stel pakaian yang telah disiapkan oleh
Istriku, aku berangkat dan sampai di tempat yang biasa, kulihat Shela
tetap memakai baju seragam sekolahnya. Setelah dia naik ke mobil,
kembali kulihat matanya tetap seperti habis menangis.
Lalu kutanya, "Shela..., habis perang lagi yaa?, soal apa lagi?".
"Oom, ceritanya nanti saja deh", katanya agak malas.
"Kita mau kemana Oom?", Tanyanya.
"Lho..., terserah Shela saja.., Oom sih ikut saja".
"Oom..., saya kepingin ke tempat yang agak sepi dan nggak ada orang
lain..., jadi kalau-kalau Shela nangis, nggak ada yang melihatnya
kecuali Oom".
Sambil memutar mobilku kembali ke arah Cirebon, aku berpikir sejenak mau
ke tempat mana yang sesuai dengan permintaan Shela, dan segera teringat
kalau di pinggiran kota Cirebon yang ke arah Kuningan ada sebuah
lapangan Golf dan Cottage CPN.
Segera saja kukatakan padanya, "Shela... Tempat yang sesuai dengan
keinginanmu itu kayaknya agak susah, tapi..., bagaimana kalau kita ke
CPN saja..?".
"Dimana itu Oom dan tempat apaan?",tanya Shela.
Aku jadi agak susah menjelaskannya, tapi kujawab saja, "Tempatnya sih
nggak jauh yaitu sedikit di luar Cirebon dan..., begini saja deh..,
Shela.., kita ke sana dulu dan kalau Shela kurang setuju dengan
tempatnya, kita cari tempat lain lagi". Setelah sampai di tempat dan
mendaftar di receptionist serta memesan minuman ringan serta mengambil
kunci kamarnya, segera aku kembali ke mobil dan kutanyakan pada
Shela--"gimana Shela.., kamu mau disini..?, lihat saja tempatnya sepi
(maklum saja masih pagi-pagi. Receptionistnya saja seperti
terheran-heran, sepertinya berfikir kok ada tamu pagi-pagi sekali dan
nomor mobilnya bukan dari luar kota).
Setelah mobil kuparkir di depan KAMAR, sebelum turun kutanya dia
kembali, "Shela..., gimana.., mau di sini? atau mau cari tempat lain?".
Shela tidak segera menjawab pertanyaanku, tapi dia ikut turun dari mobil
dan mengikutiku ke arah pintu kamar motel. Segera setelah sampai di
dalam, dia langsung duduk di tempat tidur sambil memperhatikan seluruh
ruangan.
Karena kulihat dia tetap diam saja, aku jadi merasa tidak enak dan
segera kudekati dia yang masih tetap duduk di pinggiran tempat tidur dan
sambil agak berlutut, kucium keningnya beberapa saat dan tiba-tiba saja
Shela memelukku dan terdengar tangisan lirih sambil terisak-isak.
Sambil masih memelukku, kuangkat berdiri dari duduknya dan kuelus-elus
rambutnya, sambil kucium pipinya serta kukatakan, "Shela coba tenangkan
dirimu dan ceritakan semua masalah mu pada Oom..., siapa tahu Oom bisa
membantumu dalam memecahkan masalahmu itu".
Shela masih saja memelukku tapi senggukan tangisnya mulai mereda.
Beberapa saat kemudian kubimbing dia ke arah tempat tidur dan perlahan
kutelentangkan Shela di tempat tidur dan kurangkulkan tangan kiriku di
bahunya dan kupandangi wajahnya, sambil kukatakan, "Shela cobalah
ceritakan masalahmu itu dan biar Oom bisa mengetahui permasalahanmu
itu".
Shela tetap diam saja dan memejamkan matanya, tapi tak lama kemudian,
sambil menyeka air matanya dia membuka matanya dan memandang ke arahku
yang jaraknya antara wajahnya dan wajahku sangat dekat sekali. "Oom...",
katanya seperti akan memulai bercerita, tapi lalu dia diam lagi.
"Shela...", kataku sambil kucium pipinya dan kuusap-usapkan jari tangan
kananku di rambutnya, "cerita lah".
Lalu Shela mulai bercerita dan dia menceritakan secara panjang lebar
soal kehidupan keluarganya yang miskin, dia anak pertama dari 3
bersaudara, tentang pacarnya di sekolah tapi lain kelas yang sudah 2
tahun pacaran dan sekarang sudah meninggalkan dia karena mendapatkan
pacar baru di kelasnya dan dia juga menceritakan kalau orang tuanya
sudah menjodohkan dengan tetangganya yang sudah punya istri dan anak,
tapi kaya dan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Shela dan dia harus
segera berhenti dari sekolahnya karena akan dikimpoikan pada bulan
Maret akan datang.
Shela katanya kepingin sekolah dulu dan belum pingin kimpoi, apalagi
kimpoi dengan orang yang sudah punya Istri dan anak. Shela punya
keinginan mau lari dari rumahnya, tapi tidak tahu mau ke mana. Shela
juga menceritakan bahwa sebetulnya dia masih cinta kepada kawan
sekolahnya itu, apalagi dia sudah telanjur pernah tidur bersama sewaktu
piknik ke Kuningan dulu, walaupun katanya dia tidak yakin kalau punya
pacarnya itu sudah masuk ke vaginanya apa belum, karena belum apa-apa
sudah keluar katanya.
"Jadi..., gimana.., Oom.., apa yang harus saya perbuat dengan masalah ini, katanya setelah menyelesaikan ceritanya.
"Shela", kataku sambil kembali kuelus-elus rambutnya dan kucium pipinya di dekat bibirnya.
"Shela..., masalahmu kok begitu rumit, terutama persoalan lamaran
tetanggamu itu. Begini saja Shela..., sebaiknya kamu minta kepada
orangtuamu untuk menunda perkimpoian itu sampai kamu selesai sekolah.
Bilang saja..., kalau ujian SMA-mu hanya tinggal beberapa bulan lagi".
"Katakan lagi..., sayang kalau biaya yang telah dikeluarkan selama
hampir tiga tahun di SMA harus hilang percuma tanpa mendapatkan Ijasah.
Shela..., sewaktu kamu mengatakan ini semua, jangan pakai emosi, katakan
dengan lemah lembut, mudah-mudahan saja orang tuamu mau mengerti dan
mengundurkan perjodohanmu dengan tetanggamu itu".
"Kalau orang tuamu setuju, jadi kamu bisa konsentrasi untuk menyelesaikan sekolahmu dan yang lainnya bisa dipikirkan kemudian".
Setelah selesai memberikan saran ini, lalu kembali kucium pipinya seraya
kutanya..., "Shela..., bagaimana pendapatmu dengan saran Oom ini?".
Seraya saja Shela bangkit dari tidurnya dan memelukku erat-erat sambil
menciumi pipiku dan berkata, "Ooom..., terima kasih.., atas saran Oom
ini..., belum terpikir oleh saya sebelumnya hal ini..., Oom sangat baik
terhadap Shela entah bagaimana caranya saya membalas kebaikan Oom", dan
terasa air matanya menetes di pipiku.
Setelah diam sesaat, kembali kurebahkan badan Shela telentang dan
kulihat dari matanya yang tertutup itu sisa air matanya dan segera
kucium kedua matanya dan sedikit demi sedikit cimmanku kuturunkan ke
hidungnya dan terus turun ke pipi kirinya, setelah itu kugeser ciumanku
mendekati bibirnya. Karena Shela masih tetap diam dan tidak menolak,
keberanianku semakin bertambah dan secara perlahan-lahan kugeser
ciumanku ke arah bibirnya, dan tiba-tiba saja Shela menerkam dan
memelukku serta mencari bibirku dengan matanya yang masih tertutup.
Aku berciuman cukup lama dan sesekali lidahku kujulurkan ke dalam
mulutnya dan Shela mengisapnya. Sambil tetap berciuman, kurebahkan
badannya lagi dan tangan kananku segera kuletakkan tepat di atas buah
dadanya yang terasa sangat kenyal dan sedikit kuremas. Karena tidak ada
reaksi yang berlebihan serta Shela bukan saja mencium bibirku tapi
seluruh wajahku, maka satu persatu kancing baju SMU-nya berhasil kulepas
dan ketika kusingkap bajunya, tersembul dua bukit yang halus tertutup
BH putih tipis dan ukurannya tidak terlalu besar.
Ketika kucoba membuka baju sekolahnya dari tangan kanannya, Shela
kelihatannya tetap diam dan malah membantu dengan membengkokkan
tangannya. Setelah berhasil melepas baju dari tangan kanannya, segera
kucari kaitan BH-nya di belakang dan dengan mudah kutemukan serta
kulepaskan kaitannya, sementara itu kami masih tetap berciuman, kadang
dibibir dan sesekali di seluruh wajah bergantian.
BH-nya pun dengan mudah kulepas dari tangan kanannya dan ketika
kusingkap BH-nya, tersembul buah dada Shela yang ukurannya tidak terlalu
besar tapi menantang dan dengan puting susunya bershelana kecoklatan.
Dan dengan tidak sabar dan sambil meremas pelan payudara kanannya,
kuturunkan wajahku menyelusuri leher dan terus ke bawah dan sesampainya
di payudaranya, kujilati payudara Shela yang menantang itu dan sesekali
kuhisap puting susunya, sementara Shela meremas-remas rambutku seraya
terdengar suara lirih, "aahh..., aahh..., ooomm..., ssshh..., aahh".
Aku paling tidak tahan kalau mendengar suara lirih seperti ini, serta
merta penisku semakin tegang dan kugunakan kesempatan ini sambil tetap
menjilati dan menghisap payudara Shela, kugunakan tangan kananku untuk
menelusuri bagian bawah badan Shela Ketika sampai di celana dalamnya
serta kuelus-elus vaginanya, terasa sekali ada bagian CD yang basah.
Sambil masih tetap menjilati payudara Shela, kugunakan jari tanganku
menyusup masuk dari samping CD-nya untuk mencari bibir vaginanya dan
ketika dapat dan kuelus, badan Shela terasa menggelinjang dan membukakan
kakinya serta kembali terdengar, "aahh..., ssshh..., ssshh..., aahh".
Aku jadi semakin penasaran saja mendengar suara Shela mengerang lirih
seperti itu. Segera kulepas tanganku yang ada di vaginanya dan sekarang
kugunakan untuk mencari kancing atau apapun yang ada di Rok sekolahnya
untuk segera kulepas.
Untung saja rok sekolah yang dipakai adalah rok standard yaitu ada
kaitan sekaligus ritsluiting, sehingga dengan mudah kutemukan dan kubuka
kaitan dan ritsluitingnya, sehingga roknya menjadi longgar di badan
Shela. Lalu perlahan-lahan kuturunkan badanku serta ciumanku menelusuri
perut Shela seraya tanganku berusaha menurunkan roknya. Roknya yang
sudah longgar itu dengan mudah kuturunkan ke arah kakinya dan
kuperhatikan Shela mengenakan CD shelana merah muda dan kulihat juga
vaginanya yang menggunung di dalam CD-nya.
Badan Shela menggelinjang saat ciumanku menelusuri perut dan pada saat
ciumanku mencapai CD di atas gunungan vaginanya, gelinjang badan Shela
semakin keras dan pantatnya seakan diangkat serta tetap kudengar
suaranya yang lirih sambil meremas-remas rambutku agak keras serta
sesekali memanggil, "ssshh..., aahh..., ssshht..., ooom..., aahh".
Sambil kujilati lipatan pahanya, kuturunkan CD-nya perlahan-lahan dan
setelah setengahnya terbuka, kuperhatikan vagina Shela masih belum
banyak ditumbuhi bulu sehingga terlihat jelas belahan vaginanya dan
basah. Setelah berhasil melepas CD-nya dari kedua kaki Shela yang masih
menjulur di lantai, kuposisikan badanku diantara kedua paha Shela sambil
merenggangkan kedua pahanya.
Dengan pelan-pelan kujulurkan lidahku dan kujilati belahan vaginanya
yang agak terbuka akibat pahanya kubuka agak lebar. Bersamaan dengan
jilatanku itu, tiba-tiba Shela bangun dari tidurnya dan berkata,
"Jaa..., ngaan..., Ooom", sambil mencoba mengangkat kepalaku dengan
kedua tangannya. Karena takut Shela akan marah, maka dengan terpaksa aku
bangkit dan kupeluk Shela serta berusaha menidurkannya lagi sambil
kucium bibirnya untuk menenangkan dirinya.
Shela tidak memberikan komentar apa-apa, tapi kami kembali berciuman dan
Shela sepertinya lebih bernafsu dari sebelumnya dan lebih agresif
menciumi seluruh wajahku. Sementara itu tanganku kugunakan untuk melepas
baju dan BH Shela yang sebelah dan yang tadi belum sempat kulepas,
Shela sepertinya mendiamkan saja, malah sepertinya membantuku dengan
memiringkan badannya agar bajunya mudah kulepas. Sambil tetap berciuman,
sekarang aku berusaha untuk melepas baju dan celanaku sendiri.
Setelah aku berhasil melepas semua pakaianku termasuk CD-ku, lalu dengan
harap-harap cemas karena aku takut Shela akan menolaknya, aku
menempatkan diriku yang tadinya selalu di samping kiri atau kanan badan
Shela, sekarang aku naik di atas badan Shela. Perkiraanku ternyata
salah, setelah aku ada di atas badan Shela, ternyata dia malah
memelukkan kedua tangannya di punggungku sambil sesekali menekan-nekan.
Dalam posisi begini, terasa penisku agak sakit karena tertindih di
antara badanku dan paha Shela. Karena tidak tahan, segera kuangkat kaki
kananku untuk mencari posisi yang nikmat, tapi bersamaan dengan kakiku
terangkat, kurasakan Shela malah merenggangkan kedua kakinya agak lebar,
tentu saja kesempatan ini tidak kusia-siakan, segera saja kutaruh kedua
kakiku di bagian tengah kedua kakinya yang dilebarkan itu dan sekarang
terasa penisku berada di atas vagina Shela. Shela masih memelukkan kedua
tangannya di punggungku dan meciumi seluruh wajahku.
Sambil masih tetap kujilat dan ciumi seluruh wajahnya, kuturunkan
tanganku ke bawah dan sedikit kumiringkan badanku, perlahan-lahan kuelus
vagina Shela yang menggembung dan setelah beberapa saat lalu kupegang
bibir vaginanya dengan jariku dan kurasakan kedua tangan Shela serasa
mencekeram di punggungku dan ketika jari tengahku kugunakan untuk
mengelus bagian dalam vaginanya, terasa vagina Shela sangat basah dan
kurasakan badan bawah Shela bergerak perlahan-lahan sepertinya mengikuti
gerakan jari tanganku yang sedang mengelus dan meraba bagian dalam
vaginanya dan sesekali kupermainkan clitorisnya dengan jari-jariku
sehingga Shela sering berdesis, "Ssshh..., ssshh..., aahh..., ssshh",
sambil kurasakan jari kedua tangannya menusuk punggungku.
Setelah sekian lama kupernainkan vaginanya dengan jariku, kemudian
kulepaskan jariku dari vagina Shela dan kugunakan tangan kananku untuk
memegang penisku serta segera saja penisku kuarahkan ke vagina Shela
sambil kugosok-gosokan ke atas dan ke bawah sepanjang bagian dalam
vagina Shela, serta kembali kudengar desis suaranya, "ssshh...,
ssshh..., ooom..., aahh..., ssshh", dan pantatnya diangkat naik turun
pelan-pelan. Karena kulihat Shela sudah sangat terangsang nafsunya,
segera saja kuhentikan gerakan tanganku dan kutujukan penisku ke arah
bawah bagian vaginanya dan setelah kurasa pas, segera kulepaskan
tanganku dan kutekan pelan-pelan penisku k edalam vagina Shela.
Kuperhatikan wajah Shela agak mengerenyit seperti menahan rasa sakit
serta menghentikan gerakan pantatnya serta bersuara pelan tepat di dekat
telingaku, "Aduuuhh..., ooomm..., Jangaannn..., sakiiittt..., Asiihh..,
takuuut., Oom". Mendengar suaranya yang sedikit menghiba itu, segera
kuhentikan tusukan penisku dan kuelus-elus dahinya sambil kucium
telinganya serta kubisikan, "Tidak..., apa-apa..., sayaang..., Oom...,
pelan-pelan saja..., kok", untuk menenangkan ketakutan Shela. Shela
tidak segera menanggapi kata-kataku dan tetap diam saja dengan tetap
masih memelukkan kedua tangannya di punggungku.
Karena dia diam saja dan memejamkan kedua matanya, segera secara
perlahan-lahan, kutusukan kembali penisku ke dalam vaginanya dan
terdengar lagi Shela berkata lirih di dekat telingaku, "Aduuuhh...,
sakiiittt..., ooom..., Asihh.., takuuut", padahal kurasakan kalau Shela
mulai lagi menggerakkan pantatnya perlahan-lahan.
Mendengar kata-katanya yang lirih ini, kembali kuhentikan tusukan
penisku tapi masih tetap ditempatnya yaitu di lubang vaginanya, dan
kembali kuciumi bibir dan wajahnya serta kuelus-elus rambutnya sambil
kubisiki, "Takut apa sayang..". Shela tidak segera menjawab pertanyaanku
itu. Sambil menunggu jawabannya, kuteruskan ciumanku di bibirnya dan
Shela mulai lagi melayani ciumanku itu dengan memainkan lidahku yang
kujulurkan ke dalam mulutnya dan kurasakan Shela mulai memindahkan kedua
tangannya dari punggung ke atas pantatku.
Aku tetap bersabar menunggu dan tidak terburu-buru untuk menusukkan
penisku lagi. Tetap dengan masih menghisap lidahku, kurasakan kedua
tangan Shela sedikit menekan pantatku, entah perintah supaya aku
menusukkan penisku ke vaginanya atau hanya perasaanku saja. Sementara
aku diamkan saja dan dengan masih berciuman, kutunggu reaksi Shela
selanjutnya. Ketika ciumanku kualihkan ke daerah dekat telinganya,
kulihat Shela berusaha mengelak mungkin karena kegelian dan kembali
kurasakan kedua tangannya seperti menekan pantatku.
Lalu kembali kulumat bibirnya dan perlahan tapi pasti, kembali kutekan
penisku ke dalam liang kewanitaannya, tapi Shela tidak kuberi kesempatan
untuk berkata-kata karena mulutnya kusumpal dengan mulutku dan penisku
makin kutekankan ke dalam vaginanya serta kulihat mata Shela menutup
rapat-rapat seperti menahan sakit.
Karena penisku belum juga menembus vaginanya, lalu sedikit kuangkat
pantatku dan kembali kutusukkan ke dalam vagina Shela dan, "Bleeesss",
terasa penisku sepertinya sudah menembus vagina Shela dan, "aahh...,
sakiiit..., ooom, Ketika sampai di celana dalamnya serta kuelus-elus
vaginanya, terasa sekali ada bagian CD yang basah. Sambil masih tetap
menjilati payudara Shela, kugunakan jari tanganku menyusup masuk dari
samping CD-nya untuk mencari bibir vaginanya dan ketika dapat dan
kuelus, badan Shela terasa menggelinjang dan membukakan kakinya serta
kembali terdengar, "aahh..., ssshh..., ssshh..., aahh". Aku jadi semakin
penasaran saja mendengar suara Shela mengerang lirih seperti itu.
Segera kulepas tanganku yang ada di vaginanya dan sekarang kugunakan
untuk mencari kancing atau apapun yang ada di Rok sekolahnya untuk
segera kulepas. Untung saja rok sekolah yang dipakai adalah rok standard
yaitu ada kaitan sekaligus ritsluiting, sehingga dengan mudah kutemukan
dan kubuka kaitan dan ritsluitingnya, sehingga roknya menjadi longgar
di badan Shela.
Lalu perlahan-lahan kuturunkan badanku serta ciumanku menelusuri perut
Shela seraya tanganku berusaha menurunkan roknya. Roknya yang sudah
longgar itu dengan mudah kuturunkan ke arah kakinya dan kuperhatikan
Shela mengenakan CD shelana merah muda dan kulihat juga vaginanya yang
menggunung di dalam CD-nya.
Badan Shela menggelinjang saat ciumanku menelusuri perut dan pada saat
ciumanku mencapai CD di atas gunungan vaginanya, gelinjang badan Shela
semakin keras dan pantatnya seakan diangkat serta tetap kudengar
suaranya yang lirih sambil meremas-remas rambutku agak keras serta
sesekali memanggil, "ssshh..., aahh..., ssshht..., ooom..., aahh".
Sambil kujilati lipatan pahanya, kuturunkan CD-nya perlahan-lahan dan
setelah setengahnya terbuka, kuperhatikan vagina Shela masih belum
banyak ditumbuhi bulu sehingga terlihat jelas belahan vaginanya dan
basah. Setelah berhasil melepas CD-nya dari kedua kaki Shela yang masih
menjulur di lantai, kuposisikan badanku diantara kedua paha Shela sambil
merenggangkan kedua pahanya.
Dengan pelan-pelan kujulurkan lidahku dan kujilati belahan vaginanya
yang agak terbuka akibat pahanya kubuka agak lebar. Bersamaan dengan
jilatanku itu, tiba-tiba Shela bangun dari tidurnya dan berkata,
"Jaa..., ngaan..., Ooom", sambil mencoba mengangkat kepalaku dengan
kedua tangannya.
Karena takut Shela akan marah, maka dengan terpaksa aku bangkit dan
kupeluk Shela serta berusaha menidurkannya lagi sambil kucium bibirnya
untuk menenangkan dirinya.
Shela tidak memberikan komentar apa-apa, tapi kami kembali berciuman dan
Shela sepertinya lebih bernafsu dari sebelumnya dan lebih agresif
menciumi seluruh wajahku. Sementara itu tanganku kugunakan untuk melepas
baju dan BH Shela yang sebelah dan yang tadi belum sempat kulepas,
Shela sepertinya mendiamkan saja, malah sepertinya membantuku dengan
memiringkan badannya agar bajunya mudah kulepas. Sambil tetap berciuman,
sekarang aku berusaha untuk melepas baju dan celanaku sendiri.
Setelah aku berhasil melepas semua pakaianku termasuk CD-ku, lalu dengan
harap-harap cemas karena aku takut Shela akan menolaknya, aku
menempatkan diriku yang tadinya selalu di samping kiri atau kanan badan
Shela, sekarang aku naik di atas badan Shela. Perkiraanku ternyata
salah, setelah aku ada di atas badan Shela, ternyata dia malah
memelukkan kedua tangannya di punggungku sambil sesekali menekan-nekan.
Dalam posisi begini, terasa penisku agak sakit karena tertindih di
antara badanku dan paha Shela.
Karena tidak tahan, segera kuangkat kaki kananku untuk mencari posisi
yang nikmat, tapi bersamaan dengan kakiku terangkat, kurasakan Shela
malah merenggangkan kedua kakinya agak lebar, tentu saja kesempatan ini
tidak kusia-siakan, segera saja kutaruh kedua kakiku di bagian tengah
kedua kakinya yang dilebarkan itu dan sekarang terasa penisku berada di
atas vagina Shela. Shela masih memelukkan kedua tangannya di punggungku
dan meciumi seluruh wajahku.
Sambil masih tetap kujilat dan ciumi seluruh wajahnya, kuturunkan
tanganku ke bawah dan sedikit kumiringkan badanku, perlahan-lahan kuelus
vagina Shela yang menggembung dan setelah beberapa saat lalu kupegang
bibir vaginanya dengan jariku dan kurasakan kedua tangan Shela serasa
mencekeram di punggungku dan ketika jari tengahku kugunakan untuk
mengelus bagian dalam vaginanya, terasa vagina Shela sangat basah dan
kurasakan badan bawah Shela bergerak perlahan-lahan sepertinya mengikuti
gerakan jari tanganku yang sedang mengelus dan meraba bagian dalam
vaginanya dan sesekali kupermainkan clitorisnya dengan jari-jariku
sehingga Shela sering berdesis, "Ssshh..., ssshh..., aahh..., ssshh",
sambil kurasakan jari kedua tangannya menusuk punggungku.
Setelah sekian lama kupernainkan vaginanya dengan jariku, kemudian
kulepaskan jariku dari vagina Shela dan kugunakan tangan kananku untuk
memegang penisku serta segera saja penisku kuarahkan ke vagina Shela
sambil kugosok-gosokan ke atas dan ke bawah sepanjang bagian dalam
vagina Shela, serta kembali kudengar desis suaranya, "ssshh...,
ssshh..., ooom..., aahh..., ssshh", dan pantatnya diangkat naik turun
pelan-pelan.
Karena kulihat Shela sudah sangat terangsang nafsunya, segera saja
kuhentikan gerakan tanganku dan kutujukan penisku ke arah bawah bagian
vaginanya dan setelah kurasa pas, segera kulepaskan tanganku dan kutekan
pelan-pelan penisku k edalam vagina Shela. Kuperhatikan wajah Shela
agak mengerenyit seperti menahan rasa sakit serta menghentikan gerakan
pantatnya serta bersuara pelan tepat di dekat telingaku, "Aduuuhh...,
ooomm..., Jangaannn..., sakiiittt..., Asiihh.., takuuut., Oom".
Mendengar suaranya yang sedikit menghiba itu, segera kuhentikan tusukan
penisku dan kuelus-elus dahinya sambil kucium telinganya serta
kubisikan, "Tidak..., apa-apa..., sayaang..., Oom..., pelan-pelan
saja..., kok", untuk menenangkan ketakutan Shela. Shela tidak segera
menanggapi kata-kataku dan tetap diam saja dengan tetap masih memelukkan
kedua tangannya di punggungku.
Karena dia diam saja dan memejamkan kedua matanya, segera secara
perlahan-lahan, kutusukan kembali penisku ke dalam vaginanya dan
terdengar lagi Shela berkata lirih di dekat telingaku, "Aduuuhh...,
sakiiittt..., ooom..., Asihh.., takuuut", padahal kurasakan kalau Shela
mulai lagi menggerakkan pantatnya perlahan-lahan.
Mendengar kata-katanya yang lirih ini, kembali kuhentikan tusukan
penisku tapi masih tetap ditempatnya yaitu di lubang vaginanya, dan
kembali kuciumi bibir dan wajahnya serta kuelus-elus rambutnya sambil
kubisiki, "Takut apa sayang..". Shela tidak segera menjawab pertanyaanku
itu. Sambil menunggu jawabannya, kuteruskan ciumanku di bibirnya dan
Shela mulai lagi melayani ciumanku itu dengan memainkan lidahku yang
kujulurkan ke dalam mulutnya dan kurasakan Shela mulai memindahkan kedua
tangannya dari punggung ke atas pantatku.
Aku tetap bersabar menunggu dan tidak terburu-buru untuk menusukkan
penisku lagi. Tetap dengan masih menghisap lidahku, kurasakan kedua
tangan Shela sedikit menekan pantatku, entah perintah supaya aku
menusukkan penisku ke vaginanya atau hanya perasaanku saja. Sementara
aku diamkan saja dan dengan masih berciuman, kutunggu reaksi Shela
selanjutnya.
Ketika ciumanku kualihkan ke daerah dekat telinganya, kulihat Shela
berusaha mengelak mungkin karena kegelian dan kembali kurasakan kedua
tangannya seperti menekan pantatku. Lalu kembali kulumat bibirnya dan
perlahan tapi pasti, kembali kutekan penisku ke dalam liang
kewanitaannya, tapi Shela tidak kuberi kesempatan untuk berkata-kata
karena mulutnya kusumpal dengan mulutku dan penisku makin kutekankan ke
dalam vaginanya serta kulihat mata Shela menutup rapat-rapat seperti
menahan sakit.
Karena penisku belum juga menembus vaginanya, lalu sedikit kuangkat
pantatku dan kembali kutusukkan ke dalam vagina Shela dan, "Bleeesss",
terasa penisku sepertinya sudah menembus vagina Shela dan, "aahh...,
sakiiit..., ooom….", kudengar suara Shela sambil seperti menahan rasa
sakit dan berusaha menarik pantatku. Untuk sementara tidak kugerakkan
pantatku dan setelah kulihat Shela mulai tenang dan kembali mau menciumi
wajahku, lalu perlahan-lahan kutekan penisku yang sudah menembus
vaginanya supaya masuk lebih dalam lagi
"aahh..., oom..., pelan..., pelaan..", kudengar Shela berkata lirih.
"Iyaa..., sayaang..., ooom pelah-pelan", jawabku serta kubelai
rambutnya. Setelah kudiamkan sebentar, lalu kugerakkan pantatku naik
turun sangat pelan agar Shela tidak merasa kesakitan, dan ternyata
berhasil, wajah Shela keperhatikan tidak tegang lagi sehingga pergerakan
penisku keluar masuk vagina Shela sedikit kupercepat dan belum berapa
lama terdengar suara Shela, "ooom..., ooom..., aaduuuhh..., ooomm...,
aahh", sambil kedua tangannya mencengkeram punggungku dengan kuat dan
menciumi keseluruhan wajahku dengan sangat bernafsu dan badannya
berkeringat, lalu Shela berteriak agak keras, "aahh..., ooomm...,
aduuuhh..", lalu Shela terkapar dan terdiam lemas dengan nafas
terengah-engah.
Rupanya Aku yakin kalau Shela sudah mencapai orgasmenya padahal nafsuku
baru saja akan naik. Karena kulihat Shela sepertinya sedang kelelahan
dengan kedua matanya tertutup rapat, jadi timbul rasa kasihanku, lalu
sambil kuseka keringat wajahnya kuciumi pipi dan bibirnya dengan lembut,
tapi Shela tidak bereaksi dan tanpa kuduga di gigitnya bibirku yang
sedang menciumnya seraya berkata lirih, "ooom..., nakal..., yaa, Shela
baru sekali ini merasakan hal seperti tadi", sambil mencubit punggungku.
Aku tidak menjawab komentarnya tapi yang kuperhatikan adalah nafasnya
sudah mulai teratur dan secara perlahan-lahan aku mulai menggerakkan
penisku lagi keluar masuk vagina Shela.
Kuperhatikan Shela mulai terangsang lagi, Shela mulai menghisap bibirku
dan mulai mencoba menggerakkan pantatnya pelan-pelan dan gerakannya ini
membuat penisku seperti di pelintir keenakan. Gerakan penisku keluar
masuk semakin kupercepat dan demikian juga Shela mulai makin berani
mempercepat gerakan putaran pantatnya, sambil sesekali kedua tangannya
yang dipelukkan dipinggangku berusaha menekan sepertinya menyuruhku
untuk memasukkan penisku ke dalam vaginanya lebih dalam lagi dan
kudengar Shela mulai bersuara lagi..., "aahh..., aahh..., ooohh...,
oomm..., aah", dan tidak terasa akupun mulai berkicau, "aacchh...,
aahh..., Siiihh..., enaakk..., teruuus..., Siiih".
Ketika nafsuku sudah mulai memuncak dan kudengar juga nafas Shela
semakin cepat, dengan perlahan-lahan kupeluk badan Shela dan segera
kubalik badannya sehingga sekarang Shela sudah berada di atasku dan
kupelukkan kedua tanganku di pantatnya, sedangkan wajah Shela
ditempelkan di wajahku. Dengan sedikit makan tenaga, kucoba menggerakkan
pantatku naik turun dan setiap kali pantatku naik, kugunakan kedua
tanganku menekan pantat Shela ke bawah dan bisa kurasakan kalau penisku
masuk lebih dalam di vagina Shela, sehingga setiap kali kudengar
suaranya sedikit keras, "aahh..., oooh". Dan mungkin karena keenakan,
sekarang gerakan Shela malah lebih berani dengan menggerakkan pantatnya
naik turun sehingga kedua tanganku tidak perlu menekannya lagi dan
setiap kali pantatnya menekan ke bawah sehingga penisku serasa masuk
semuanya di vagina Shela, kudengar dia bersuara keenakan, "Aahh..., aah
disertai nafasnya yang semakin cepat, demikian juga aku sambil berusaha
menahan agar maniku tidak segera keluar.
Gerakan Shela semakin cepat saja dan kurasakan wajahnya semakin
ditekankan ke wajahku sehingga kudengar nafasnya yang sangat cepat itu
di dekat telingaku dan, "Aduuuh..., aahh..., aahh..., ooomm.., Shela...,
mauuu.., keluaar..., aah".
"Tungguuu..., Waarrr.., kitaa..., samaa..., samaa., ooom.., Jugaa.., mauuu..., keluarr".
"aahh..., aahh..., ooomm", teriak Shela sambil mengerakkan pantatnya
menggila dan akupun karena sudah tidak tahan menahan maniku dari tadi
segera kegerakkan pantatku lebih cepat dan, "Crreeettt..., ccrreeett...,
ccccrrreeett..., dan "aahh..., siiihh..., ooom keluaar", sambil kutekan
pantat Shela kuat-kuat. Setelah beristirahat sebentar, kuajak Shela ke
kamar mandi untuk membersihkan badan dan Shela kembali menjatuhkan
badannya di tempat tidur, mungkin masih merasakan kelelahan. Tak terasa
jam sudah menunjukkan hampir jam 12 siang dan segera saja kupesan makan
siang
cerita dewasa, kumpulan cerita sex, blowjob, handjob, cerita sex
dewasa, cerita seks dewasa, tante girang, daun muda, pemerkosaan, cerita
seks artis,cerita sex artis, cerita porno artis,cerita hot artis,
cerita sex, cerita kenikmatan,cerita bokep, cerita ngentot,cerita hot,
bacaan seks, cerita, Kumpulan Cerita Seks, onani dan Masturbasi, cerita
seks tante,blog cerita seks, seks,sedarah seks, cerita 17 tahun,cerita
bokep

0 Response to "Shela Gadis Desa SMA Ngewe "
Posting Komentar